Dua laut yang tidak pernah bercampur ada dlm al-Qur'an (14 abad yang lalu)
Seorang
Oceanografer berkebangsaan Prancis, Jaques Yves Cousteau, telah
mengungkap pertemuan dua laut yang tidak bercampur. Ia meneliti
pertemuan Samudra Atlantik dan Mediterania yang tidak bercampur satu
dengan yang lain.
Penelitian ini dilakukannya ketika melakukan
eksplorasi di bawah laut. Ia menemui kumpulan mata air tawar yang tidak
bercampur dengan air laut. ''Seolah-olah ada dinding yang membatasi
kedua aliran air itu,'' ujarnya Cousteau.
Sang ilmuwan pun
mencoba mempelajari ilmu kelautan untuk memecahkan misteri tentang
fenomena ganjil tersebut, namun tak pernah membuahkan hasil. Ia pun
menceritakan hal ganjil itu kepada seorang profesor Muslim. Terkejutlah
Cousteau ketika sang profesor Muslim menceritakan bahwa fenomena itu
telah dijelaskan Alquran 14 abad silam.
“Dia membiarkan dua
lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada
batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (QS Ar-Rahman:19-20)
"Dan
Dialah (Allah) yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan), yang
satu tawar dan segar dan yang lainnya asin. Dia jadikan antara keduanya
dinding dan batas yang tidak tembus." (QS Al Furqan:53).
Terpesonalah
Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu. Kekagumannya terhadap ayat
suci Alquran itu melebihi kekagumannya akan pemandangan laut dalam yang
pernah dilihatnya.
Menurut dia, mustahil jika Alquran disusun
oleh Muhammad SAW. Sebab, pada zaman itu belum ada peralatan selam yang
canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.
Costeau pun dikabarkan masuk Islam secara diam-diam, atas kekagumannya
pada Alquran yang mengungkapkan fenomena alam ini.
Jaques
Cousteau meninggal Rabu 25 Juni 1997. Sayangnya, dengan kerahasian
Islamnya, banyak orang terdekatnya yang tidak tahu. Ia dikabarkan
dimakamkan di Katedral Notre Dame di Paris
klik ini berikit ini http://www.youtube.com/watch?v=jDVIPbftU_E
Blog Ini DI buat Hanya Untuk Mengisi Kekosongan DI Sela-Sela Kesibukan Dan Di Peruntukan Untuk Suamiku Tersayang Arnis
Rabu, 18 Juni 2014
Pengusaha Ini Rela Bayar Denda Demi Membela Muslimah
Bagi
wanita yang ingin memakai burka, tidak usah khawatir. Meski mereka
mendapat denda, silakan melakukannya lagi (memakai burka) dan kami akan
mengganti biaya denda.
Dream - Beberapa negara Eropa menerapkan peraturan yang ketat bagi wanita yang memakai burka, misalnya Perancis dan Belgia. Mereka akan didenda jika kedapatan mengenakan burka di jalanan.
Namun, seorang pebisnis Perancis keturunan Aljazair Rachid Nekkaz secara sukarela membayar denda bagi para muslimah yang memakai burka itu.
Nekkaz yang beristrikan seorang wanita Perancis keturunan Amerika, bahkan sudah menyediakan jutaan euro untuk membayar denda bagi para muslimah.
Diperkirakan sekitar 400 hingga 2.000 wanita Perancis selalu memakai burka dalam kesehariannya. Bagi wanita yang kedapatan mengenakan burka di jalanan, pemerintah Perancis akan mengenakan denda sebesar 150 Euro.
Nekkaz menegaskan, dia dan istrinya melakukan hal ini tidak dilandasi agama tapi melihat aturan itu merupakan bentuk penghinaan hak-hak konstitusional rakyat Perancis.
"Bagi wanita yang ingin memakai burka, tidak usah khawatir. Meski mereka mendapat denda, silakan melakukannya lagi (memakai burka) dan kami akan mengganti biaya denda," ujar dia.
Cecile Le Roux, istri Nekkaz, menegaskan ia dan suaminya juga tidak mendukung burka. Menurutnya, sungguh tidak nyaman berbicara dengan orang yang mengenakan burka karena tidak bisa mengenali wajahnya.
Namun yang menjadi perhatiannya adalah hak individu yang melekat pada setiap orang. "Saya yakin dengan kebebasan individu yang dianggap suci di negara Barat yang demokratis ini," katanya.
Pasangan ini telah menyisihkan sekitar 200.000 euro dari uang mereka sendiri dan 50.000 Euro lainnya didapatkan melalui donasi. Uang tersebut digunakan untuk membayar denda. Pada 2011, Nekkaz diberitakan telah membayar denda 2 muslimah yang terkena denda saat mengenakan burka.
Tanggapan Pemerintah
Eric Raoult, anggota parlemen Perancis, yang ikut menyusun aturan larangan memakai burka itu, mengatakan bahwa langkah Nekkaz sebagai sesuatu yang sia-sia. Menurutnya, Nekkaz seharusnya ikut memberikan penjelasan soal inti larangan memakai burka kepada pemakaiannya.
Raoult mengatakan larangan memakai burka bukan bertujuan untuk menghukum pemakaiannya tapi memberikan pilihan agar mereka tidak mengenakannya lagi.
Apalagi, akhir-akhir ini dia melihat banyak wanita muda yang sudah tidak lagi memakai burka tapi memakai kerudung sehingga wajah mereka kelihatan.
Dream - Beberapa negara Eropa menerapkan peraturan yang ketat bagi wanita yang memakai burka, misalnya Perancis dan Belgia. Mereka akan didenda jika kedapatan mengenakan burka di jalanan.
Namun, seorang pebisnis Perancis keturunan Aljazair Rachid Nekkaz secara sukarela membayar denda bagi para muslimah yang memakai burka itu.
Nekkaz yang beristrikan seorang wanita Perancis keturunan Amerika, bahkan sudah menyediakan jutaan euro untuk membayar denda bagi para muslimah.
Diperkirakan sekitar 400 hingga 2.000 wanita Perancis selalu memakai burka dalam kesehariannya. Bagi wanita yang kedapatan mengenakan burka di jalanan, pemerintah Perancis akan mengenakan denda sebesar 150 Euro.
Nekkaz menegaskan, dia dan istrinya melakukan hal ini tidak dilandasi agama tapi melihat aturan itu merupakan bentuk penghinaan hak-hak konstitusional rakyat Perancis.
"Bagi wanita yang ingin memakai burka, tidak usah khawatir. Meski mereka mendapat denda, silakan melakukannya lagi (memakai burka) dan kami akan mengganti biaya denda," ujar dia.
Cecile Le Roux, istri Nekkaz, menegaskan ia dan suaminya juga tidak mendukung burka. Menurutnya, sungguh tidak nyaman berbicara dengan orang yang mengenakan burka karena tidak bisa mengenali wajahnya.
Namun yang menjadi perhatiannya adalah hak individu yang melekat pada setiap orang. "Saya yakin dengan kebebasan individu yang dianggap suci di negara Barat yang demokratis ini," katanya.
Pasangan ini telah menyisihkan sekitar 200.000 euro dari uang mereka sendiri dan 50.000 Euro lainnya didapatkan melalui donasi. Uang tersebut digunakan untuk membayar denda. Pada 2011, Nekkaz diberitakan telah membayar denda 2 muslimah yang terkena denda saat mengenakan burka.
Tanggapan Pemerintah
Eric Raoult, anggota parlemen Perancis, yang ikut menyusun aturan larangan memakai burka itu, mengatakan bahwa langkah Nekkaz sebagai sesuatu yang sia-sia. Menurutnya, Nekkaz seharusnya ikut memberikan penjelasan soal inti larangan memakai burka kepada pemakaiannya.
Raoult mengatakan larangan memakai burka bukan bertujuan untuk menghukum pemakaiannya tapi memberikan pilihan agar mereka tidak mengenakannya lagi.
Apalagi, akhir-akhir ini dia melihat banyak wanita muda yang sudah tidak lagi memakai burka tapi memakai kerudung sehingga wajah mereka kelihatan.
Rabu, 11 Juni 2014
13 Hal Yang Diharapkan Seorang Istri
Hampir semua wanita ingin mendapat afeksi, kasih sayang, pujian, dan perhatian dari suami.
Di bawah ini ada 13 harapan istri yang patut menjadi perhatian para suami.
1. Mengingat Hari-hari Istimewa Dalam Keluarga
Entah itu hari ulang tahun istri, hari pernikahan, atau ulang tahun anak. Idealnya, memang suami mengingat hari-hari istimewa ini. Walaupun demikian, bilang Henny E. Wirawan, M.Hum, Psi , Pudek I Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta, istri harus memaklumi kalau suami lupa, karena faktor kesibukan, juga tak semua orang menanggali kalendernya dengan hari ulang tahun dan sebagainya.
2. Memberikan pujian dan atensi
Pada prinsipnya hampir semua wanita ingin mendapat afeksi, kasih sayang, pujian, dan perhatian dari suami. “Perhatian itu bisa berupa hal-hal kecil, seperti menelepon istri, memberi surprise di hari istimewanya, bahkan sekadar memuji masakan buatannya.” Hal-hal seperti ini dapat lebih menggugah cinta istri dan membuat ia lebih jatuh cinta lagi pada suami.
Sebab, bagi istri bukan semata-mata materi, tapi justru hal-hal yang sifatnya psikologis yang lebih penting. Tak ada salahnya suami memperhatikan ini. Toh, bila suami bisa mengambil hati istri, biasanya istri mau melakukan apa pun bagi suaminya. Namun dalam memuji harus yang wajar, ya, Pak. Tidak berlebihan dan juga diiringi dengan tingkah laku manis. Jangan hari ini memuji istrinya yang pintar masak, tapi begitu masakan kurang garam, suami memaki.
3. Memberi dukungan dan membela istri
Harapan ini memang sudah menjadi tugas suami. Habis mau membela siapa lagi kalau bukan membela istri? Hanya saja, istri pun kalau ada masalah dengan mertua atau ipar, juga tak memojokkan suami seolah berkata, “Ayo mau bela siapa?” Tapi suami harus bisa senetral mungkin melihat situasi yang objektif. Jangan sampai karena suami anak mami, lalu memprioritaskan ibunya.
Kalau memang istri perlu dibela, karena ada yang tak benar dilakukan orang tua, seharusnya suami membela istri. Kalau istrinya yang salah, maka suami memberitahu istri dengan baik, misal, “Kamu sebetulnya salahnya begini. Sepertinya kalau bersikap seperti itu, tak baik.” Jangan mengatakan, “Kamu menantu yang kurang ajar!” Karena hal ini bisa membuat istri terluka dan sakit hati
. 4. Gantian mengasuh anak
“Mengasuh anak itu melelahkan, belum lagi istri pun harus mengurus rumah tangga juga. Jadi wajar kalau istri berharap suami menggantikan beberapa saat saja.” Bila dipenuhi, tentu istri akan senang. Bisa ketika suami pulang kantor gantian pegang anak atau ketika sedang libur membebaskan istri untuk pergi belanja atau ke salon. Sedangkan kalau keduanya bekerja,
perlu dirundingkan untuk membagi waktu dan tugas di antara keduanya. Jangan sampai urusan anak dipegang babysitter .
5. Lebih banyak waktu terhadap keluarga
Wajar bila istri kepenginnya sering berada bersama-sama dengan suami. Seyogyanya bisa dipenuhi oleh suami. Memang suami harus bekerja, tapi istri berharap setelah itu suami memberi waktu untuk istri dan keluarga. Pun di hari-hari liburnya.
Walau terkadang, suami harus lembur sampai malam atau di hari libur, tapi jika bukan prioritas mendesak, istri ingin suaminya bisa pulang ke rumah lebih cepat.
6. Tidak tergila-gila dengan hobinya
Ada, lo, suami yang suka lupa waktu dengan hobinya, misal asyik di depan internet, Asyik Main Game,atau mengutak-utik motor. “Ini berarti, suami masih bersifat kekanak-kanakan. Suami harus menyadari kalau dia sudah menikah, ia dituntut untuk tidak seperti dirinya di masa lalu, tapi sebagai pribadi yang sudah lebih mature dan bertanggung jawab untuk keluarganya.
” Bukan berarti suami tak boleh melakukan hobinya, lo, tapi harus dilihat nilai pentingnya dalam keluarga. Karena ada kalanya hobinya tak efektif dan membuang-buang waktu serta uang saja. Lain hal bila hobinya berkebun, yang hasilnya bisa mendatangkan rejeki. Bahkan istri pun bisa terjun bersama.
7. Tidak genit, tak main mata dengan wanita lain, dan tidak selingkuh
Tak ada istri yang ingin suaminya tak setia, bukan? Lain hal jika suami punya nilai religius yang tinggi, biasanya berada di mana pun si istri bisa merasa aman. Sebab, suami punya pegangan agama dan takut pada Tuhan, sehingga dia akan baik-baik saja. Jangan salah, bila suami tak setia, feeling istri biasanya sangat kuat. Bisa dilihat pula dari perubahan tingkah laku suami. Entah jadi lebih sayang pada istri atau justru tak peduli.
8. Tidak sering pergi malam bersama teman-temannya
Hal ini memang tak disukai istri, karena di tempat remang-remang lebih banyak cobaannya. Meski mulanya tak apa-apa, tapi kalau lama-lama, bisa tergoda juga. Bukankah tak hanya istri yang harus memupuk cinta, suami pun harus menjaganya? “Kemukakan hal ini pada suami untuk dicari jalan keluarnya. Kalau suami tak mau mengubah diri, istri yang harus mau berubah pikiran atau ambil jalan tengah.” Misal, istri ikut bila suami pergi untuk juga kenal dengan teman-teman suami.
9. Suami jujur Ini memang harapan kaum istri.
Hanya saja perlu dipikirkan, siapkah mendengar sesuatu yang jujur? Misal, suami punya track record sebagai playboy . Siapkah istri kalau suami cerita petualangannya di masa lalu? Nah, kalau istri tak siap, ya, terima saja suami apa adanya. Memang, bila suami punya track record seperti itu, istri akan selalu dihantui kecurigaan dan ketakutan, suami main mata dengan wanita lain. Tinggal istri mengatur dirinya. “Terima suami apa adanya, tanpa mengungkit masa lalunya. Yang penting, sekarang dan seterusnya suami adalah miliknya.” Sebaiknya kalau memang tak ingin punya suami seperti ini, penyensoran dilakukan sebelum menikah.
10. Tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk
Seperti merokok, tidak ganti baju sepulang kantor, menyimpan kaos kaki sembarangan, main judi, minum minuman keras, ataupun pencandu obat. “Harapan ini agar dikomunikasikan dengan baik, tidak dengan omelan, menyindir, dan memarahi. Kalau tidak, alih-alih berubah, tapi malah tambah parah.” Jadi, sebaiknya kalau sedang berusaha meminta suami mengubah kebiasaannya, jangan katakan, “Kamu selalu” Tapi katakan, “Saya kepengin.” Atau, “Sepertinya akan lebih baik jika.” Jadi kita lontarkan apa yang kita inginkan.
Bila suami memang bermasalah, seperti suka main judi, mabuk-mabukan, atau kecanduan obat, istri harus menyadarkan suami bahwa itu kebiasaan buruk yang merusak dirinya dan menganggu kehidupan keluarga. Mungkin istri bisa membawanya ke profesional, seperti psikolog atau ke dokter. Kalau suami mau melakukan itu dan istri mau bekerja sama dalam proses pemulihan, mungkin harapan istri bisa tercapai.
11. Royal memberi uang belanja
Setiap keluarga punya kebijakan keuangan. Ada suami yang menyerahkan semua uangnya pada istri untuk dikelola, ada pula yang pakai sistem jatah, bahkan ada yang sangat pelit hingga hanya memberi uang belanja ala kadarnya. Kalau istri mau uang belanja lebih, maka pintar-pintarnya istri merayu suami. Prinsipnya, mengkomunikasikan dan ada saling pengertian.
12. Suami mendengar nasehat istri
Karena istri adalah rekan hidupnya, suami memang harus minta pendapat istri dalam mengambil keputusan. Tapi istri juga mesti mengetahui, tak semua suami bisa melakukan seperti itu, tergantung latar belakangnya. “Kalau suami dari keluarga yang demokratis, mungkin lebih mudah melakukannya dibanding yang dari keluarga yang ayahnya seorang pemegang keputusan, tanpa perlu minta pendapat ibunya.” Kalau istri ingin suami mendengar nasehatnya, istri harus pintar mengambil hati suaminya. Misal, bicara seperti halnya seorang kekasih, yaitu dengan penuh afeksi, sehingga suami akan tergugah dan mendengarkan nasehat istri.
13. Membantu keluarga besar istri
Boleh-boleh saja suami membantu mertua dan ipar. Begitu pula sebaliknya, istri pada keluarga suaminya. Hanya saja perlu diingat, bila sudah menikah, maka yang terpenting adalah keluarga inti: istri, suami, dan anak. Bukan berarti, keluarga diabaikan.
Tapi bukanlah prioritas utama. Kalau suami bisa bantu, maka bantulah. Jadi, “istri janganlah menuntut kelewat tinggi, misalnya suami memperhatikan ibunya, menyekolahkan adiknya, memberi modal kakaknya, dan segala macam.”
Di bawah ini ada 13 harapan istri yang patut menjadi perhatian para suami.
1. Mengingat Hari-hari Istimewa Dalam Keluarga
Entah itu hari ulang tahun istri, hari pernikahan, atau ulang tahun anak. Idealnya, memang suami mengingat hari-hari istimewa ini. Walaupun demikian, bilang Henny E. Wirawan, M.Hum, Psi , Pudek I Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta, istri harus memaklumi kalau suami lupa, karena faktor kesibukan, juga tak semua orang menanggali kalendernya dengan hari ulang tahun dan sebagainya.
2. Memberikan pujian dan atensi
Pada prinsipnya hampir semua wanita ingin mendapat afeksi, kasih sayang, pujian, dan perhatian dari suami. “Perhatian itu bisa berupa hal-hal kecil, seperti menelepon istri, memberi surprise di hari istimewanya, bahkan sekadar memuji masakan buatannya.” Hal-hal seperti ini dapat lebih menggugah cinta istri dan membuat ia lebih jatuh cinta lagi pada suami.
Sebab, bagi istri bukan semata-mata materi, tapi justru hal-hal yang sifatnya psikologis yang lebih penting. Tak ada salahnya suami memperhatikan ini. Toh, bila suami bisa mengambil hati istri, biasanya istri mau melakukan apa pun bagi suaminya. Namun dalam memuji harus yang wajar, ya, Pak. Tidak berlebihan dan juga diiringi dengan tingkah laku manis. Jangan hari ini memuji istrinya yang pintar masak, tapi begitu masakan kurang garam, suami memaki.
3. Memberi dukungan dan membela istri
Harapan ini memang sudah menjadi tugas suami. Habis mau membela siapa lagi kalau bukan membela istri? Hanya saja, istri pun kalau ada masalah dengan mertua atau ipar, juga tak memojokkan suami seolah berkata, “Ayo mau bela siapa?” Tapi suami harus bisa senetral mungkin melihat situasi yang objektif. Jangan sampai karena suami anak mami, lalu memprioritaskan ibunya.
Kalau memang istri perlu dibela, karena ada yang tak benar dilakukan orang tua, seharusnya suami membela istri. Kalau istrinya yang salah, maka suami memberitahu istri dengan baik, misal, “Kamu sebetulnya salahnya begini. Sepertinya kalau bersikap seperti itu, tak baik.” Jangan mengatakan, “Kamu menantu yang kurang ajar!” Karena hal ini bisa membuat istri terluka dan sakit hati
. 4. Gantian mengasuh anak
“Mengasuh anak itu melelahkan, belum lagi istri pun harus mengurus rumah tangga juga. Jadi wajar kalau istri berharap suami menggantikan beberapa saat saja.” Bila dipenuhi, tentu istri akan senang. Bisa ketika suami pulang kantor gantian pegang anak atau ketika sedang libur membebaskan istri untuk pergi belanja atau ke salon. Sedangkan kalau keduanya bekerja,
perlu dirundingkan untuk membagi waktu dan tugas di antara keduanya. Jangan sampai urusan anak dipegang babysitter .
5. Lebih banyak waktu terhadap keluarga
Wajar bila istri kepenginnya sering berada bersama-sama dengan suami. Seyogyanya bisa dipenuhi oleh suami. Memang suami harus bekerja, tapi istri berharap setelah itu suami memberi waktu untuk istri dan keluarga. Pun di hari-hari liburnya.
Walau terkadang, suami harus lembur sampai malam atau di hari libur, tapi jika bukan prioritas mendesak, istri ingin suaminya bisa pulang ke rumah lebih cepat.
6. Tidak tergila-gila dengan hobinya
Ada, lo, suami yang suka lupa waktu dengan hobinya, misal asyik di depan internet, Asyik Main Game,atau mengutak-utik motor. “Ini berarti, suami masih bersifat kekanak-kanakan. Suami harus menyadari kalau dia sudah menikah, ia dituntut untuk tidak seperti dirinya di masa lalu, tapi sebagai pribadi yang sudah lebih mature dan bertanggung jawab untuk keluarganya.
” Bukan berarti suami tak boleh melakukan hobinya, lo, tapi harus dilihat nilai pentingnya dalam keluarga. Karena ada kalanya hobinya tak efektif dan membuang-buang waktu serta uang saja. Lain hal bila hobinya berkebun, yang hasilnya bisa mendatangkan rejeki. Bahkan istri pun bisa terjun bersama.
7. Tidak genit, tak main mata dengan wanita lain, dan tidak selingkuh
Tak ada istri yang ingin suaminya tak setia, bukan? Lain hal jika suami punya nilai religius yang tinggi, biasanya berada di mana pun si istri bisa merasa aman. Sebab, suami punya pegangan agama dan takut pada Tuhan, sehingga dia akan baik-baik saja. Jangan salah, bila suami tak setia, feeling istri biasanya sangat kuat. Bisa dilihat pula dari perubahan tingkah laku suami. Entah jadi lebih sayang pada istri atau justru tak peduli.
8. Tidak sering pergi malam bersama teman-temannya
Hal ini memang tak disukai istri, karena di tempat remang-remang lebih banyak cobaannya. Meski mulanya tak apa-apa, tapi kalau lama-lama, bisa tergoda juga. Bukankah tak hanya istri yang harus memupuk cinta, suami pun harus menjaganya? “Kemukakan hal ini pada suami untuk dicari jalan keluarnya. Kalau suami tak mau mengubah diri, istri yang harus mau berubah pikiran atau ambil jalan tengah.” Misal, istri ikut bila suami pergi untuk juga kenal dengan teman-teman suami.
9. Suami jujur Ini memang harapan kaum istri.
Hanya saja perlu dipikirkan, siapkah mendengar sesuatu yang jujur? Misal, suami punya track record sebagai playboy . Siapkah istri kalau suami cerita petualangannya di masa lalu? Nah, kalau istri tak siap, ya, terima saja suami apa adanya. Memang, bila suami punya track record seperti itu, istri akan selalu dihantui kecurigaan dan ketakutan, suami main mata dengan wanita lain. Tinggal istri mengatur dirinya. “Terima suami apa adanya, tanpa mengungkit masa lalunya. Yang penting, sekarang dan seterusnya suami adalah miliknya.” Sebaiknya kalau memang tak ingin punya suami seperti ini, penyensoran dilakukan sebelum menikah.
10. Tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk
Seperti merokok, tidak ganti baju sepulang kantor, menyimpan kaos kaki sembarangan, main judi, minum minuman keras, ataupun pencandu obat. “Harapan ini agar dikomunikasikan dengan baik, tidak dengan omelan, menyindir, dan memarahi. Kalau tidak, alih-alih berubah, tapi malah tambah parah.” Jadi, sebaiknya kalau sedang berusaha meminta suami mengubah kebiasaannya, jangan katakan, “Kamu selalu” Tapi katakan, “Saya kepengin.” Atau, “Sepertinya akan lebih baik jika.” Jadi kita lontarkan apa yang kita inginkan.
Bila suami memang bermasalah, seperti suka main judi, mabuk-mabukan, atau kecanduan obat, istri harus menyadarkan suami bahwa itu kebiasaan buruk yang merusak dirinya dan menganggu kehidupan keluarga. Mungkin istri bisa membawanya ke profesional, seperti psikolog atau ke dokter. Kalau suami mau melakukan itu dan istri mau bekerja sama dalam proses pemulihan, mungkin harapan istri bisa tercapai.
11. Royal memberi uang belanja
Setiap keluarga punya kebijakan keuangan. Ada suami yang menyerahkan semua uangnya pada istri untuk dikelola, ada pula yang pakai sistem jatah, bahkan ada yang sangat pelit hingga hanya memberi uang belanja ala kadarnya. Kalau istri mau uang belanja lebih, maka pintar-pintarnya istri merayu suami. Prinsipnya, mengkomunikasikan dan ada saling pengertian.
12. Suami mendengar nasehat istri
Karena istri adalah rekan hidupnya, suami memang harus minta pendapat istri dalam mengambil keputusan. Tapi istri juga mesti mengetahui, tak semua suami bisa melakukan seperti itu, tergantung latar belakangnya. “Kalau suami dari keluarga yang demokratis, mungkin lebih mudah melakukannya dibanding yang dari keluarga yang ayahnya seorang pemegang keputusan, tanpa perlu minta pendapat ibunya.” Kalau istri ingin suami mendengar nasehatnya, istri harus pintar mengambil hati suaminya. Misal, bicara seperti halnya seorang kekasih, yaitu dengan penuh afeksi, sehingga suami akan tergugah dan mendengarkan nasehat istri.
13. Membantu keluarga besar istri
Boleh-boleh saja suami membantu mertua dan ipar. Begitu pula sebaliknya, istri pada keluarga suaminya. Hanya saja perlu diingat, bila sudah menikah, maka yang terpenting adalah keluarga inti: istri, suami, dan anak. Bukan berarti, keluarga diabaikan.
Tapi bukanlah prioritas utama. Kalau suami bisa bantu, maka bantulah. Jadi, “istri janganlah menuntut kelewat tinggi, misalnya suami memperhatikan ibunya, menyekolahkan adiknya, memberi modal kakaknya, dan segala macam.”
Senin, 09 Juni 2014
Bisnis Online, Id survei
klik www.indosurvei.com/meynies/ sebelum membaca
Banyak orang yang ragu akan kebenaran idsurvei apakah benar
membayar atau hanya penipuan belaka. Tak terkecuali juga dengan saya,
tapi keraguan itu sedikit demi sedikit telah hilang ketika saya mencari
bukti-bukti kebenaran idsurvei dan alhamdullah saya tidak menemukan bahwa id survei hanya penipuan.
Kalau masih ada para pembaca yang masih bingung apa itu idsurvei, saya akan jelaskan penjelasan singkatnya disini.
idsurvei adalah
lowongan kerja survei yang bisa di kerjakan secara online, komisi yang
kita dapat berasal dari mereka yang mengisi survei melalui link survei
kita. 1 survei berharga Rp2000 dan satu hari tidak terbatas berapapun
survei yang bisa kita hadirkan.
Anda bisa dong minghitungnya sendiri
berapa yang anda dapat untuk survei yang bisa anda hadirkan ke link anda
hehe,,,, Tapi untuk menjalankan program ini anda harus menjadi member
dulu, dan ianya tidak gratis adapun bianyanya adalah Rp 100.000,-
(Menurut saya, itu bukanlah biaya yang mahal jika kita benar2 dibayar.)
Berikut salah satu kesaksian mereka yang telah terjawab rasa keraguanya itu, sekaligus meyakinkan saya untuk menjalankannya :
Tanpa banyak mikir, dan hanya ingin membuktikan benar ga sih program Id survei ini bisa menghasilkan, apakah takutnya malah modus penipuan.
1. Alamat perusahaan tidak ada. Inilah yang paling banyak ditanyakan dan membuat teman-teman dan saya sendiri pun sempat ragu bergabung ke Id Survei. Alamat adalah sebuah kejelasan dari sebuah perusahaan, namun sampai sekarang Id Survei tidakbelum memampang alamat di websitenya.
2. Bukti transfer yang Dipampang adalah tahun 2011 – Coba deh Anda lihat di halaman bukti pembayaran Id survei, disama hanya dipampang screenshoot bukti pembayaran tahun 2011, tidak pernah di-update.
3. Belum pernah gabung dan payout. Sudah menjadi hal
umum, rasa curiga itu muncul biasanya oleh orang-orang yang cuma bisa
mengira-ngira. Itulah yang saya pikirkan dulu, suudzon sekali sama Id Survei, Astagrifullah..
Kesimpulannya, Apakah Id Survei Program Penipuan / Scam?
Dengan Bismillah, saya meniatkan jika memang idsurvei adalah
scam, ya anggap saja sedekah, tapi kalau memang benar membayar, saya
sudah tau strategi promosinya harus bagaimana.Komisi pertama saya tidak besar sih, hanya Rp. 324.000, tapi lumayanlah
udah balik modal… hehehe,,
info lebih lanjut klik www.indosurvei.com/meynies/
Kamis, 15 Mei 2014
Renungan Untuk Suami Dan Istri
Para Pembaca-baca tentang serba serbi pernikahan, rata-rata 85%
semua menyatakan rasa penyesalan karena terlalu cepat menikah dan merasa
salah memilih pasangan.
Seorang ibu mengatakan “Andai waktu bisa diputar kembali, aku mengalami banyak kehilangan masa mudaku karena menikah muda. Kesenangan-kesenangan yang seharusnya bisa aku nikmati tidak dapat aku sentuh karena aku harus mengurus anak-anak, di tambah lagi aku memiliki suami yang egois dan cuek. Terlalu asik dengan teman-temannya tanpa memikirkan kami istri dan anak-anaknya.”
Sementara ibu yang lain berkata, “Dia berbeda ketika berpacaran dulu, sekarang dia menunjukkan sifat aslinya. Kami sering bertengkar dan aku merasa tidak tahan lagi. Kami seperti minyak dan air, tidak dapat bersatu. Sepertinya ada sesuatu dalam dirinya yang tidak dapat aku sentuh.”
Dan yang lain berkata “Selama pacaran dia memang sudah menunjukkan sikap cuek. Kadang dia begitu sangat romantis, tapi kadang dia begitu sangat tidak peduli dan acuh. Aku kira pernikahan bisa mengubah segalanya. Mengubah sikap cueknya. Namun ternyata setelah menikah, dia justru semakin cuek dan akan bersikap romantis hanya bila dia memerlukanku untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Berulang kali terbersit rasa ingin meninggalkannya, namun aku masih memikirkan perasaan anakku. Jika dia terus seperti ini, mungkin aku akan pergi meninggalkannya.”
Di forum yang lain, ada seorang ibu yang memiliki 1 orang anak bercerita bahwa suaminya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Sibuk dengan teman-temannya. Dan bila hari libur tiba, suaminya akan semakin sibuk dengan handphone-nya. Dia merasa tidak diperhatikan dan tidak dipedulikan oleh suaminya. Kalau di ajak jalan, suaminya selalu menolak. Tetapi kalau di ajak jalan oleh teman-temannya, tanpa pikir panjang sang suami langsung pergi. Tidak ada keharmonisan di keluarga.
Berbagai cara sudah dia lakukan. Dari berbicara lembut, merayu, menggoda, berhias, sampai akhirnya dia berkata kasar… suaminya tidak berubah. Kalaupun berubah, paling perubahannya hanya beberapa minggu saja. Kemudian dia bertemu dengan pria lain. Pria yang bisa memberi kenyamanan dan perhatian yang dia harapkan. Sebut saja nama Pria itu adalah X. Pria itu pun dekat dengan anaknya. Sampai akhirnya anaknya dengan polos berkata kepada ibunya seperti ini, “Mama… mama… aku ingin papa X aja. Mama cari papa baru aja seperti X. Adek ga mau punya papa yang sekarang.”
Jreeenggg… apa yang terjadi??? Siapa yang salah dalam posisi ini?
Sang istri atau sang suami?
Of course kita tidak dapat menyimpulkan sesuatu kalau hanya mendengar dari salah satu pihak saja. Mungkin sang suami memiliki kejenuhan yang tidak terucapkan, sehingga bersikap seperti itu. Mungkin juga ada hal yang tidak puas yang dirasakan oleh sang suami kepada istrinya sehingga suami lebih merasa nyaman berada di dekat teman-temannya ketimbang keluarganya. Atau bisa jadi memang tabiat suaminya yang begitu.
Kalau melihat dari sisi cerita si istri, mungkin kita bisa berkata kasihan si istri harus mengalami hal itu. Suaminya tidak perduli dan anaknya sampai meminta papa baru seperti itu. Padahal usia anaknya belum ada 7 tahun, mengapa anak ini bisa berkata seperti itu? Mungkin karena sikap suami yang keterlaluan karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Sebut saja egois.
So??? Kembali ke pertanyaan semula… Siapa yang bisa di salahkan dalam hal ini???
Jawabannya tidak ada. Tidak ada satu pihak saja yang bisa di salahkan dalam kasus ini. Karena dari pihak suami maupun istri, masing-masing punya peranan. Suami salah, ya istri juga salah. Kalau suami benar, harusnya istri juga benar dong. Kok bisa begitu??? Ya iyalah masa ya iya dong… Karena ketika sepasang kekasih mengikat janji setia, sehidup semati di hadapan Tuhan, itu berarti mereka sudah menjadi satu tubuh. Dan dari iman yang aku percayai, mereka bukan lagi menjadi dua di hadapan Tuhan melainkan menjadi satu.
Apakah perceraian merupakan jalan keluar yang terbaik? Daripada berselingkuh, lebih baik bercerai
bukan??? Lalu bagaimana dengan psikologis sang anak? Pernahkah para orangtua muda yang memutuskan untuk bercerai memikirkan psikis/kejiwaan sang anak? Please deh, jangan egois… Bukankah anak itu mengikuti panutan dari orangtuanya?
Kata teman-temanku yang sudah menikah, 97% mereka berkata bahwa kalau sudah menikah, cinta itu menjadi tidak penting lagi, tetapi yang menjadi penting adalah tanggung jawab!
Kebutuhan ekonomi, peranan keluarga besar… mungkin keluarga besar dari pihak si istri atau dari pihak si suami yang ingin ikut campur dalam setiap masalah rumah tangga, atau seorang saudara yang berkata, dia itu adik saya kok jadi istrinya yang ngatur? Dia itu kakak saya, kok jadi suaminya yang ngatur? Seorang saudara kandung merasa punya hak lebih atas saudaranya sehingga merasa sang istri atau sang suami di anggap tidak penting. Karena bagi sebagian orang, saudara sedarah itu jauh lebih penting ketimbang siapapun. Tentu saja hal itu bisa menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Dan akhirnya siapa yang menjadi korban?
Orang bilang, anak yang menjadi korban dalam semua masalah di atas. Menurutku bukan hanya anak… sang suami, istri, dan juga anak…. ketiga pihak ini lah yang menjadi korban atas semua problema rumah tangga yang terjadi. Apakah keluarga besar menjadi korban? Atau saudara kandung yang menjadi korban? Aku rasa keluarga besar tidak bisa dikategorikan korban. Karena dalam mahligai rumah tangga, mereka hanya “orang luar“.
Lalu apakah itu berarti keluarga besar tidak penting? Aku tidak bilang begitu, kalian yang bilang begitu. Keluarga besar itu penting. Tapi bukan berarti demi keluarga besar, tanggung jawab sebagai seorang istri atau seorang suami menjadi terbengkalai.
Seorang suami rela memberikan segala-galanya demi keluarga besarnya, sementara istrinya jarang di beri uang untuk kebutuhan hidup, dengan dalih si istri juga bisa cari uang kok. Sehingga beban menyekolahkan anak dan makanan di rumah, istri harus ikut memikulnya. Bahkan 75% beban kebutuhan ekonomi harus di pikul oleh si istri. Selalu membicarakan kejelekan istrinya di depan orang lain dan di depan keluarga
besarnya. Akhirnya tanpa merasa berdosa si suami bilang, saya begini karena kurang perhatian dari istri. Gimana caranya merhatiin suami kalau istri harus kerja cari uang, istri juga harus memasak makanan anak, istri juga yang harus menyuci dan menyetrika, belum lagi urusan kebersihan rumah, dll, dsb… Tentu saja saat malam tiba, sang istri merasa terlalu lelah untuk melayani suami. Wanita itu bukan robot… Robot aja perlu istirahat apalagi wanita!
Bagaimana kalau kasusnya di balik? Sang istri merasa beban tanggung jawab keuangan itu harus di pikul oleh suami. Bukankah pria berkewajiban memenuhi kebutuhan wanita??? Kemudian apa yang di beri suami langsung dilimpahkan ke keluarga besarnya, atau untuk bersenang-senang. Tidak berpikir tabungan untuk masa depan anak, karena di pikirannya tertanam… semua itu tanggung jawab suami kok. Kalau istrinya punya penghasilan yang jauh lebih besar dari suami, lantas sang suami di anggap remeh dan tidak dihargai. Suami di pandang rendah dan merasa menjadi ratu dalam segala-galanya. Selalu membicarakan kejelekan dan kekurangan suaminya di depan orang lain dan di depan keluarga besarnya. Ingin dilayani bukannya melayani suami. Atau saat suami baru pulang kerja, tiba-tiba langsung di sambut dengan omelan-omelan tentang kelakuan anak, atau gosip ibu-ibu tetangga. Kalau suami tidak bisa memenuhi keinginannya, istri akan manyun dan ngambek berhari-hari, tidak menghargai perasaan suami. Please deh… Pria itu bukan mesin pencetak uang dan juga bukan robot yang tidak mempunyai perasaan. Sepertinya para wanita harus nonton film transformer… di film itu, robot aja punya per
asaan… apalagi lelaki!
Lalu, apakah orang-orang yang mau menikah harus merasa takut? Bagaimana mengantisipasi hal-hal yang tidak di-ingin-kan tersebut? Bagaimana menurut pendapat kalian?
Seorang ibu mengatakan “Andai waktu bisa diputar kembali, aku mengalami banyak kehilangan masa mudaku karena menikah muda. Kesenangan-kesenangan yang seharusnya bisa aku nikmati tidak dapat aku sentuh karena aku harus mengurus anak-anak, di tambah lagi aku memiliki suami yang egois dan cuek. Terlalu asik dengan teman-temannya tanpa memikirkan kami istri dan anak-anaknya.”
Sementara ibu yang lain berkata, “Dia berbeda ketika berpacaran dulu, sekarang dia menunjukkan sifat aslinya. Kami sering bertengkar dan aku merasa tidak tahan lagi. Kami seperti minyak dan air, tidak dapat bersatu. Sepertinya ada sesuatu dalam dirinya yang tidak dapat aku sentuh.”
Dan yang lain berkata “Selama pacaran dia memang sudah menunjukkan sikap cuek. Kadang dia begitu sangat romantis, tapi kadang dia begitu sangat tidak peduli dan acuh. Aku kira pernikahan bisa mengubah segalanya. Mengubah sikap cueknya. Namun ternyata setelah menikah, dia justru semakin cuek dan akan bersikap romantis hanya bila dia memerlukanku untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Berulang kali terbersit rasa ingin meninggalkannya, namun aku masih memikirkan perasaan anakku. Jika dia terus seperti ini, mungkin aku akan pergi meninggalkannya.”
Di forum yang lain, ada seorang ibu yang memiliki 1 orang anak bercerita bahwa suaminya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Sibuk dengan teman-temannya. Dan bila hari libur tiba, suaminya akan semakin sibuk dengan handphone-nya. Dia merasa tidak diperhatikan dan tidak dipedulikan oleh suaminya. Kalau di ajak jalan, suaminya selalu menolak. Tetapi kalau di ajak jalan oleh teman-temannya, tanpa pikir panjang sang suami langsung pergi. Tidak ada keharmonisan di keluarga.
Berbagai cara sudah dia lakukan. Dari berbicara lembut, merayu, menggoda, berhias, sampai akhirnya dia berkata kasar… suaminya tidak berubah. Kalaupun berubah, paling perubahannya hanya beberapa minggu saja. Kemudian dia bertemu dengan pria lain. Pria yang bisa memberi kenyamanan dan perhatian yang dia harapkan. Sebut saja nama Pria itu adalah X. Pria itu pun dekat dengan anaknya. Sampai akhirnya anaknya dengan polos berkata kepada ibunya seperti ini, “Mama… mama… aku ingin papa X aja. Mama cari papa baru aja seperti X. Adek ga mau punya papa yang sekarang.”
Jreeenggg… apa yang terjadi??? Siapa yang salah dalam posisi ini?
Sang istri atau sang suami?
Of course kita tidak dapat menyimpulkan sesuatu kalau hanya mendengar dari salah satu pihak saja. Mungkin sang suami memiliki kejenuhan yang tidak terucapkan, sehingga bersikap seperti itu. Mungkin juga ada hal yang tidak puas yang dirasakan oleh sang suami kepada istrinya sehingga suami lebih merasa nyaman berada di dekat teman-temannya ketimbang keluarganya. Atau bisa jadi memang tabiat suaminya yang begitu.
Kalau melihat dari sisi cerita si istri, mungkin kita bisa berkata kasihan si istri harus mengalami hal itu. Suaminya tidak perduli dan anaknya sampai meminta papa baru seperti itu. Padahal usia anaknya belum ada 7 tahun, mengapa anak ini bisa berkata seperti itu? Mungkin karena sikap suami yang keterlaluan karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Sebut saja egois.
So??? Kembali ke pertanyaan semula… Siapa yang bisa di salahkan dalam hal ini???
Jawabannya tidak ada. Tidak ada satu pihak saja yang bisa di salahkan dalam kasus ini. Karena dari pihak suami maupun istri, masing-masing punya peranan. Suami salah, ya istri juga salah. Kalau suami benar, harusnya istri juga benar dong. Kok bisa begitu??? Ya iyalah masa ya iya dong… Karena ketika sepasang kekasih mengikat janji setia, sehidup semati di hadapan Tuhan, itu berarti mereka sudah menjadi satu tubuh. Dan dari iman yang aku percayai, mereka bukan lagi menjadi dua di hadapan Tuhan melainkan menjadi satu.
Apakah perceraian merupakan jalan keluar yang terbaik? Daripada berselingkuh, lebih baik bercerai
bukan??? Lalu bagaimana dengan psikologis sang anak? Pernahkah para orangtua muda yang memutuskan untuk bercerai memikirkan psikis/kejiwaan sang anak? Please deh, jangan egois… Bukankah anak itu mengikuti panutan dari orangtuanya?
Kata teman-temanku yang sudah menikah, 97% mereka berkata bahwa kalau sudah menikah, cinta itu menjadi tidak penting lagi, tetapi yang menjadi penting adalah tanggung jawab!
Kebutuhan ekonomi, peranan keluarga besar… mungkin keluarga besar dari pihak si istri atau dari pihak si suami yang ingin ikut campur dalam setiap masalah rumah tangga, atau seorang saudara yang berkata, dia itu adik saya kok jadi istrinya yang ngatur? Dia itu kakak saya, kok jadi suaminya yang ngatur? Seorang saudara kandung merasa punya hak lebih atas saudaranya sehingga merasa sang istri atau sang suami di anggap tidak penting. Karena bagi sebagian orang, saudara sedarah itu jauh lebih penting ketimbang siapapun. Tentu saja hal itu bisa menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Dan akhirnya siapa yang menjadi korban?
Orang bilang, anak yang menjadi korban dalam semua masalah di atas. Menurutku bukan hanya anak… sang suami, istri, dan juga anak…. ketiga pihak ini lah yang menjadi korban atas semua problema rumah tangga yang terjadi. Apakah keluarga besar menjadi korban? Atau saudara kandung yang menjadi korban? Aku rasa keluarga besar tidak bisa dikategorikan korban. Karena dalam mahligai rumah tangga, mereka hanya “orang luar“.
Lalu apakah itu berarti keluarga besar tidak penting? Aku tidak bilang begitu, kalian yang bilang begitu. Keluarga besar itu penting. Tapi bukan berarti demi keluarga besar, tanggung jawab sebagai seorang istri atau seorang suami menjadi terbengkalai.
Seorang suami rela memberikan segala-galanya demi keluarga besarnya, sementara istrinya jarang di beri uang untuk kebutuhan hidup, dengan dalih si istri juga bisa cari uang kok. Sehingga beban menyekolahkan anak dan makanan di rumah, istri harus ikut memikulnya. Bahkan 75% beban kebutuhan ekonomi harus di pikul oleh si istri. Selalu membicarakan kejelekan istrinya di depan orang lain dan di depan keluarga
besarnya. Akhirnya tanpa merasa berdosa si suami bilang, saya begini karena kurang perhatian dari istri. Gimana caranya merhatiin suami kalau istri harus kerja cari uang, istri juga harus memasak makanan anak, istri juga yang harus menyuci dan menyetrika, belum lagi urusan kebersihan rumah, dll, dsb… Tentu saja saat malam tiba, sang istri merasa terlalu lelah untuk melayani suami. Wanita itu bukan robot… Robot aja perlu istirahat apalagi wanita!
Bagaimana kalau kasusnya di balik? Sang istri merasa beban tanggung jawab keuangan itu harus di pikul oleh suami. Bukankah pria berkewajiban memenuhi kebutuhan wanita??? Kemudian apa yang di beri suami langsung dilimpahkan ke keluarga besarnya, atau untuk bersenang-senang. Tidak berpikir tabungan untuk masa depan anak, karena di pikirannya tertanam… semua itu tanggung jawab suami kok. Kalau istrinya punya penghasilan yang jauh lebih besar dari suami, lantas sang suami di anggap remeh dan tidak dihargai. Suami di pandang rendah dan merasa menjadi ratu dalam segala-galanya. Selalu membicarakan kejelekan dan kekurangan suaminya di depan orang lain dan di depan keluarga besarnya. Ingin dilayani bukannya melayani suami. Atau saat suami baru pulang kerja, tiba-tiba langsung di sambut dengan omelan-omelan tentang kelakuan anak, atau gosip ibu-ibu tetangga. Kalau suami tidak bisa memenuhi keinginannya, istri akan manyun dan ngambek berhari-hari, tidak menghargai perasaan suami. Please deh… Pria itu bukan mesin pencetak uang dan juga bukan robot yang tidak mempunyai perasaan. Sepertinya para wanita harus nonton film transformer… di film itu, robot aja punya per
asaan… apalagi lelaki!
Lalu, apakah orang-orang yang mau menikah harus merasa takut? Bagaimana mengantisipasi hal-hal yang tidak di-ingin-kan tersebut? Bagaimana menurut pendapat kalian?
CERITA INSPIRASI UNTUK KITA. BUANG SAJA KENTANG BUSUK ITU!
Pada sebuah sekolah, seorang guru mengajarkan sesuatu pada
murid-muridnya. Beliau meminta agar para murid membawa sebuah kantong
plastik besar dan mengisinya dengan kentang. Kentang-kentang itu
mewakili setiap orang yang pernah menyakiti hati mereka dan belum
dimaafkan. Setiap kentang yang dibawa, dituliskan sebuah nama orang yang
pernah menyakiti hati murid-murid itu.
Beberapa murid memasukkan sedikit kentang, sebagian membawa cukup banyak. Para murid harus membawa kentang dalam kantong itu kemanapun mereka pergi. Menemani mereka belajar, dibawa pulang, dibawa lagi ke sekolah, diletakkan di samping bantal mereka saat tidur, pokoknya, kentang dalam kantong itu tidak boleh jauh dari mereka.
Makin hari, makin banyak murid yang mengernyitkan hidung karena kentang-kentang itu mulai mengeluarkan aroma busuk.
"Apakah kalian telah memaafkan nama-nama yang kalian tulis pada kulit kentang itu?" tanya sang guru.
Para murid tampaknya sepakat untuk belum bisa memaafkan nama-nama yang telah memaafkan mereka.
"Jika demikian, kalian tetap harus membawa kentang itu kemanapun kalian pergi,"
Hari demi hari berlalu. Bau busuk yang dikeluarkan kentang-kentang itu semakin membusuk. Banyak dari mereka yang akhirnya menjadi mual, pusing dan tidak nafsu makan karenanya. Akhirnya, mereka membuang kentang-kentang itu ke dalam tempat sampah. Dengan asumsi mereka juga memaafkan nama-nama yang mereka tulis di atas kulit kentang.
"Nah, para murid, dendam yang kalian tanam sama seperti kentang-kentang itu. Semakin banyak kalian mendendam, semakin berat kalian melangkah. Semakin hari, dendam-dendam itu akan membusuk dan meracuni pikiran kalian," ujar sang guru sambil tersenyum.
Para murid hanya terdiam, meresapi setiap perkataan guru mereka.
"Karena itu, sekalipun kalian menyimpan dendam pada orang lain, atau mereka pernah menyakiti hati kalian, maafkanlah mereka dan lupakan yang pernah mereka lakukan, jadikan hal itu sebagai pembelajaran dalam hidup kalian. Dendam sama seperti kentang-kentang busuk itu, kalian bisa membuangnya ke tempat sampah,"
Para murid tersenyum. Sejak hari itu, mereka belajar untuk menjadi manusia yang pemaaf dan tidak mudah menyimpan dendam. Hidup mereka tenang tanpa terbebani bau busuk yang akan merusak pikiran dan tubuh.
HIKMAH
Kawan, kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadi manusia yang pemaaf. Sekalipun dendam tidak kita rasakan beratnya secara fisik, tetapi secara mental akan melemahkan langkah Anda, membuat hidup Anda tidak nyaman. Maafkanlah mereka yang pernah menyakiti Anda dan hirup udara segar kebebasan.
Beberapa murid memasukkan sedikit kentang, sebagian membawa cukup banyak. Para murid harus membawa kentang dalam kantong itu kemanapun mereka pergi. Menemani mereka belajar, dibawa pulang, dibawa lagi ke sekolah, diletakkan di samping bantal mereka saat tidur, pokoknya, kentang dalam kantong itu tidak boleh jauh dari mereka.
Makin hari, makin banyak murid yang mengernyitkan hidung karena kentang-kentang itu mulai mengeluarkan aroma busuk.
"Apakah kalian telah memaafkan nama-nama yang kalian tulis pada kulit kentang itu?" tanya sang guru.
Para murid tampaknya sepakat untuk belum bisa memaafkan nama-nama yang telah memaafkan mereka.
"Jika demikian, kalian tetap harus membawa kentang itu kemanapun kalian pergi,"
Hari demi hari berlalu. Bau busuk yang dikeluarkan kentang-kentang itu semakin membusuk. Banyak dari mereka yang akhirnya menjadi mual, pusing dan tidak nafsu makan karenanya. Akhirnya, mereka membuang kentang-kentang itu ke dalam tempat sampah. Dengan asumsi mereka juga memaafkan nama-nama yang mereka tulis di atas kulit kentang.
"Nah, para murid, dendam yang kalian tanam sama seperti kentang-kentang itu. Semakin banyak kalian mendendam, semakin berat kalian melangkah. Semakin hari, dendam-dendam itu akan membusuk dan meracuni pikiran kalian," ujar sang guru sambil tersenyum.
Para murid hanya terdiam, meresapi setiap perkataan guru mereka.
"Karena itu, sekalipun kalian menyimpan dendam pada orang lain, atau mereka pernah menyakiti hati kalian, maafkanlah mereka dan lupakan yang pernah mereka lakukan, jadikan hal itu sebagai pembelajaran dalam hidup kalian. Dendam sama seperti kentang-kentang busuk itu, kalian bisa membuangnya ke tempat sampah,"
Para murid tersenyum. Sejak hari itu, mereka belajar untuk menjadi manusia yang pemaaf dan tidak mudah menyimpan dendam. Hidup mereka tenang tanpa terbebani bau busuk yang akan merusak pikiran dan tubuh.
HIKMAH
Kawan, kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadi manusia yang pemaaf. Sekalipun dendam tidak kita rasakan beratnya secara fisik, tetapi secara mental akan melemahkan langkah Anda, membuat hidup Anda tidak nyaman. Maafkanlah mereka yang pernah menyakiti Anda dan hirup udara segar kebebasan.
Senin, 09 Desember 2013
SUAMI KU PANGERANKU
Hari hari yang ku lalui setelah menikah sangat menyenangkan meskipun tak terlalu berbeda dengan hari hari sebelum menikah. Hanya saja aku merasa bahwa aku punya tanggungjawab lebih untuk mengurus diri ku sendiri,suami ku dan keluarga kecilku kelak. aku sangat bersyukur dengan keaddaan ku sekarang dan aku sangat bersyukur karena aku memiliki pendamping hidup yang luar biasa hebat,lelaki yang pekerja keras, menyayangi ku apa adanya dia tidak pernah menuntut aku untuk menjadi sepeerti yang dia inginkan walaupun aku tau ada hal hal yang tidak ia sukai dari diriku,tetapi ia tetap menerima ku dengan ikhlas dan apa adanya.. ia mencoba mengimbangi sikapku dengan cara selalu mengalah dengan hal hal yang selalu membuat ku marah.
Aku sangat mencintai suami ku,, SUAMI KU PANGERANKU !!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)





